Senin, 11 November 2013

Cak Imin: Para Sarjana Tak Bisa Lagi Hanya Andalkan Ijazah

Rista Rama Dhany - detikfinance

Jakarta -Jumlah pengangguran intelektual yang terdiri dari lulusan pendidikan diploma dan universitas di Indonesia masih tergolong cukup tinggi. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar mengimbau para sarjana tak lagi mengandalkan ijazahnya.


Muhaimin yang biasa disapa Cak Imin ini mengatakan kesempatan kerja di Indonesia sebenarnya masih terbuka bagi penagguran intelektual termasuk melalui lowongan PNS oleh pemerintah.

Namun para sarjana dan lulusan diploma harus melengkapi kemampuannya dengan keterampilan dan kompetensi kerja sehingga bisa dengan mudah menentukan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bakat, minat dan keinginannya

"Kesempatan kerja yang tersedia di berbagai bidang kerja dinilai belum mampu menyerap para alumni diploma/ universitas secara optimal. Meskipun jumlahnya masih terbatas penerimaan CPNS tahun 2013 ini mampu mengurangi jumlah pengangguran intelektual di Indonesia," katanya dalam keterangan tertulis Minggu (3/11/2013)

Muhaimin mengatakan proses penerimaan CPNS memang patut disambut dengan baik karena dapat mengurangi jumlah pengangguran. Muhaimin berharap para peserta tes cpns terbaik yang lulus nantinya bisa segera bekerja membantu proses reformasi birokrasi yang telah berjalan dan peningkatan kualitas pelayanan publik di jajaran pemerintah.

Ia mengingatkan agar para lulusan perguruan tinggi lainnya jangan mengandalkan penerimaan CPNS saja tapi diharapkan dapat membuka lowongan pekerjaan dengan berwirausaha.

  • "Para sarjana lulusan perguruan tinggi tak bisa lagi hanya mengandalkan ijazah dalam mencari pekerjaan. Para sarjana harus memilki kompetensi dan keterampilan kerja yang baik sehingga dapat terserap pasar kerja dengan cepat," katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), meskipun angka pengangguran terus menurun, masih terdapat pengangguran terbuka di Indonesia yang jumlahnya mencapai 7,17 juta (5,92 Persen).

Dari jumlah 7,17 juta orang tersebut, terdapat sekitar 610.000 orang pengangguran intelektual yang terdiri dari pengangguran lulusan pendidikan diploma I/II/III yang jumlahnya mencapi 0,19 juta (2,69 persen) dan lulusan universitas sebanyak 0,42 juta ( 5,88 persen).

Ia menegaskan paradigma dan kurikulum kurikulum pendidikan tinggi mesti dirombak total. Kedepannya, sejak awal perguruan tinggi harus mampu mendesain arah profesi bagi para alumninya. Harus ada perencanaan untuk mengarahkankan pada kompetensi kerja produktivitas sumber daya manusia sehingga lulusannya siap bekerja dan menjadi tenaga kerja andal

"Perguruan Tinggi diharapkan tidak hanya mampu melahirkan sarjana formal yang berpikir secara intelektual, disiplin, tertib dan teratur, tekun dan berani secara research dalam dunia pendidikan tapi harus siap menyongsong dunia kerja," serunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar